yeremia dan cemen

Sebuah kosakata baru diucapkan oleh Yeremia dalam perjalanan menuju arisan, Sabtu siang. Cemen! Tentu saja papi dan mami kaget mendengarnya. Karena kata ini baru pertamakali diucapkan Yeremia. Menurut dia, kata itu ada dalam ejekan teman teman sekelasnya kepada Filipi.

Konon, karena Filipi cengeng sehingga diejek teman sebagai Filipi Cemen. Tentu saja, tugas papi dan mami menjelaskan dengan baik. Pertama tentu saja soal bagaimana berteman. Papi dan mami menjelaskan bahwa, adalah tidak baik mengejek teman meskipun teman itu cengeng. Selain itu, mengejek teman hanyalah akan membuat teman membenci kita dan pertemanan akan menjadi permusuhan. Papi bilang, papi punya teman banyak. Mami pun punya teman banyak. Jadi Yeremia juga harus punya teman banyak dan tidak boleh bermusuhan.

Sepertinya Yeremia bisa menerima soal memperbanyak jumlah teman ini. Namun dia tidak bisa menerima himbauan papi dan mami untuk tidak ikut ikutan menyebut Filipi cemen. Argumentasinya adalah, Filipi benar benar cengeng dan layak disebut cemen. Sampai dia bercerita bahwa Bryan tidak suka dengan Filipi. Dia juga bercerita bahwa Filipi pernah dipukul oleh anak kelas dua hingga menangis.

Tentu saja soal ini jadi masalah baru lagi. Papi menerangkan lagi, bahwa sebagai yang lebih besar, tidak boleh anak kelas dua memukul anak kelas satu. Yeremia harus menaruh kasihan kepada teman kalau diperlakukan seperti itu. Karena bagaimanapun, Filipi adalah teman Yeremia juga.

Soal anak yang lebih besar tidak boleh semena mena terhadap yang lebih kecil, Yeremia masih bisa menerima. Namun soal menaruh kasihan kepada Filipi yang jadi korban, sepertinya Yeremia tidak bisa menerima permintaan papi dan mami untuk tidak menyebut Filipi cemen. Sehingga akhirnya dia bilang kurang lebih, ”papi benar soal yang lain…bukan masalah kasihan…papi…tapi…..Filipi itu memang cengeng…jadi dia itu cemen….”

yeremia dan empati

Mungkin ingin menunjukkan pada teman temannya, dia punya mobil Avanza, Yeremia minta biar mami menjemputnya di kolam renang pada hari Rabu. Sebenarnya Rabu, bukanlah jadwal berenang apalagi olahraga. Jadwal olahraga hari Kamis, sementara berenang pada hari Jumat. Berenang di hari Rabu merupakan bagian dari Ujian Akhir Semesternya.

Mami pun menyetujui untuk menjemputnya. Namun, mami bilang akan bicara ke teman mami dulu. Maksudnya tentu saja meminta ijin kepada pimpinan sekaligus pemilik perusahaan tempat mami bekerja.

Rabu pagi, Yeremia sedang berganti pakaian saat papi terbangun dari tidur. Namun melihat Yeremia sedang berganti pakaian, papi pura pura masih tertidur saat melihat Yeremia mengambil sendiri pakaian dari lemari, termasuk pakaian dalam. Papi langsung bangun dari pura pura tidur, waktu melihat Yeremia masih terbalik menggunakan singlet. Papi pun bangun dan menawarkan diri untuk membantunya berpakaian. Yang unik, Yeremia menggunakan celana dua lapis. Celana renang dulu baru kemudian celana seragam. Katanya biar tidak usah telanjang saat berganti di sekolah.

Selesai berpakaian, Yeremia ditemani papi dan mami berbincang di meja makan. Dia masih menagih komitmen mami untuk menjemput. Namun dia bilang, ”mami harus telpon temen mami dulu ya?”. Mami mengiyakan dengan menambah alasan bahwa hal itu dilakukan, karena mami harus minta ijin. Karena bekerja memang seperti itu. Sambil menerangkan bahwa setelah menjemput Yeremia, mami harus kembali bekerja biar punya uang buat ongkos Yeremia pulang ke Medan.

Mendengar itu, sepertinya rasa empati kepada maminya muncul. Mungkin berpikir bahwa maminya akan masuk lebih siang Yeremia bilang, ”kalau begitu, Yeremia dijemput Ompung saja” sambil pergi kekamar depan untuk meminta kesediaan Ompung, menjemput.

Ternyata dikamar, Yeremia sempat tawar menawar dengan Ompung. Ompungnya cerita bahwa, tadi sempat ditawari untuk dijemput sama mbak saja. Tapi Yeremia bilang kurang lebih, ”Ompung…kata bu guru, yang jemput orangtua..mbak kan bukan orangtua Yeremia? Orangtua Yeremia, Ompung”. Meski tidak terlalu pas, argumen Yeremia cukup nyaman didengar :-)

Argumen itu masih dipertegas lagi saat papi siap mengantarnya kesekolah. Waktu diminta permisi kepada Ompung, awalnya dia bilang ”Ompung pergi dulu ya….” tapi tak berapa lama Yeremia mengkoreksi lagi, ”Mak…pergi ya….” sambil cengengesan. Hahahaha…ada memang obsesi dia untuk memanggil Ompungnya dengan sapaan mama. Sama seperti papinya menyapa Ompunya.

yeremia menghindar dari masalah

Untuk pertamakalinya, Yeremia melapor bahwa siang ini dia berkelahi di sekolah. Main fisik. Mukul teman sekelas.

Persoalannya sederhana. Saat pelajaran komputer, seorang teman mengganggunya. Yeremia sudah peringatkan si teman, namun sang teman tetap menganggu. Sepertinya, kesabaran Yeremia mencapai puncaknya. Dia marah. Sang teman, dipukul. Yeremia dipukul balik, dan Yeremia balas memukul.

Kalau tidak mengenal perilakunya, papi akan salahkan Yeremia, karena sudah memukul teman sekelas. Namun, papi dan mami cukup mengerti, bagaimana kejadiannya hingga terjadi adegan baku pukul itu.

Meski ‘mewarisi’ bakat darah tinggi, Yeremia bukanlah anak yang suka main pukul. Seandainya memungkinkan, Yeremia lebih memilih untuk menghindar bila dia diganggu oleh anak sebayanya. Hal tersebut kerap terjadi kepada sepupunya Markus.

Seiseng apapun Markus mengganggunya, Yeremia akan mendiamkan saja. Bahkan, andaikata Markus, sangkin kesalnya memukul Yeremia, Yeremia memilih untuk mendiamkan. Hingga pernah didepan papi, Oma bilang kalau Yeremia tidak boleh diam saja bila Markus memukulnya. Sepertinya Yeremia tidak mengindahkan permintaan Oma itu. Terbukti, Yeremia lebih memilih untuk tidak ikut ke Kebonjeruk, demi agar tidak diganggu oleh Markus. Ya. Dia lebih memilih untuk menghindar daripada balas memukul.

Atas dasar itulah, makanya papi dan mami tidak terlalu mempermasalahkan kejadian siang ini, dalam arti memarahi Yeremia. Yang dilakukan oleh mami adalah melaporkan kejadian ini kepada ibu guru agar selanjutnya mendapat perhatian. Ternyata, menurut ibu guru, sang teman memang punya kebiasaan iseng dan mengganggu teman. Bahkan, konon sang ibu rutin melakukan pengecekan ke sekolah, siapakah gerangan yang ‘diajak’ berkelahi olehnya.

Efek dari kejadian siang ini, sempat Yeremia tidak mau sekolah bahkan mengusulkan agar dia pindah sekolah saja. Itu, tadi. Ingin menghindar saja daripada diganggu terus. Mau tidak mau, mami harus membujuk Yeremia agar tidak memilih kedua opsi itu. Karena kalau itu yang terjadi, berarti Yeremia lari dari persoalan. Mungkin kalimatnya tidak tepat seperti itu. Tapi itulah yang sedang ditanamkan kepadanya. Beruntunglah papi dan mami, Yeremia bisa menerima penjelasannya.

yeremia belajar dari kesalahan

“Kata bu Tasia, Yeremia dsuruh bangun jam delapan” kata Yeremia hari Minggu kemarin. Papi berpikir agak aneh juga saran dari ibu guru ini, karena jam belajar Yeremia sehari-harinya dimulai pukul 06:45WIB. ”Memangnya Yeremia, sering terlambat masuk kelas?” tanya papi yang merasa heran karena, merasa selama ini mengantarkan Yeremia kesekolah, tidak pernah terlambat. Papi sempat berpikir, bahwa Yeremia sedang diledek oleh gurunya karena sering terlambat.

”Bukan. Kata bu Tasia, kalau ekskul bangunnya jam delapan”. Astaga! Papi dan Mami disadarkan kenyataan, bahwa mulai minggu kemarin, setiap Sabtu pagi Yeremia ikut kegiatan ekstra kurikuler. Sementara pada saat yang sama, Papi dan Mami membiarkan Yeremia untuk menginap di Cibubur di tempat Tulang Bona.

Mami langsung mengambil tanggung jawab dengan mengatakan bahwa Mami salah karena lupa mengingatkan Yeremia untuk tidak pergi ke rumah Tulang Bona. Dan menambahkan, bahwa Mami akan bicara kepada Ibu Tasia kenapa Yeremia tidak datang ekskul.

Seperti mendapat kesempatan dalam kesempitan, Yeremia langsung memberi komentar, ”Jadi yang salah Mami?”. Papi kaget mendapat pertanyaan seperti ini. Karena kalau salah menjawab, bisa berabe urusannya. Kesannya, Yeremia sedang melempar kesalahan pada Maminya.

Untunglah Papi segera mendapat jawaban yang mudah-mudahan cukup bijaksana. Papi bilang, ”Bukan begitu Amang. Mami salah, karena membiarkan Yeremia nginap di rumah Tulang Bona. Yeremia juga salah, karena enggak ingetin Papi dan Mami, kalau hari Sabtu, Yeremia ada ekskul’. Jadi karena sama-sama lupa, mulai minggu depan, Yeremia harus ikut ekskul sebelum nginap di rumah Tulang Bona.

Mudah-mudahan Yeremia, bisa mengerti..:-)

yeremia dan penghapus

“Papi, beliin Yeremia penghapus ya” kata Yeremia satu malam. “Memang penghapus yang papi beliin udah kemana,Nak?” Tanya papi. “Hilang, trus Yeremia ga punya karet gelang”

Kenapa karet gelang? Karena satu malam, saat papi menemani Yeremia belajar dan ada kesalahan, papi bingung mau menghapus pakai apa. Karena seperti biasa, penghapus yang dibelikan papi dan diletakkan di kotak pensil, tidak kelihatan.

Ternyata, trik papi diingat oleh Yeremia dan dia kebingungan sendiri waktu di sekolah menghadapi keadaan darurat yang sama.

Yeremia dan Yopa

Yeremia sudah bisa mengeja. Seminggu terakhir ini disela-sela bermain atau kalau sedang berbaring di tempat tidur, dia akan mengucap pelan beberapa kata. ”em a, ma..em a,ma..mama…pe a,pa…pe a…pa…papa…” juga beberapa kata lain yang mungkin diajarkan disekolah atau menjadi PR untuk dikerjakan di rumah.

Sebagaimana biasa,kalau Papa atau Mama mencoba nimbrung, dan ingin menguji kemampuannya Yeremia selalu mengalihkan. Atau kalaupun dia mau diminta untuk mengeja dengan suara yang tidak berbisik, dia akan mengeja kata-kata aneh yang Papa yakin, dia karang sendiri. Dan kata aneh yang dia suka dan selalu diucapkan keras tanpa salah adalah ”ye o…yo…pe a…pa….yopa” sebuah kata tanpa arti yang kalau dilihat dari PR yang dibawa kerumah, kemungkinan besar tidak pernah menjadi contoh kata dalam pelajaran mengeja atau membaca. Atau ada yang tau arti kata dari ‘yopa’ ini?

Yeremia Pusing

Yeremia suka iseng. Namanya anak-anak itu adalah hal yang lumrah. Sebagaimana malam ini. Dia sedang menonton Cartoon Network saat Papa pulang kantor. Sambil bermain dengan otopednya. Seperti biasa, Papa ngobrol sebentar dengannya. Lalu Papa makan malam. Sehabis makan, Papa membaca koran. Yeremia masih bermain sambil nonton ditemani Mama.

Selang berapa lama, Yeremia bilang ke Papa yang sedang baca koran. ”Ayo, Pa. Baca korannya di kamar saja” ini adalah pertanda awal kalau dia sudah mengantuk dan minta ditemani tidur, menyusul Mama yang sudah lebih dahulu masuk kamar. ”Emang Yeremia sudah ngantuk?” tanya Papa. ”Iya” katanya.

Akhirnya kitapun masuk kamar. Sambil berbaring dia bilang,”Pa, tadi adek tendang perut Mama” ”Lho, kenapa Yeremia tidak bilang, gak boleh tendang-tendang?” kata Papa. ”Emang waktu Yeremia, di perut Mama, Yeremia suka tendang-tendang ya?” katanya lagi. ”Iya. Tapi waktu itu, Papa yang bilangin kalau Yeremia tidak boleh tendang-tendang” jelas Papa. Sepertinya dia bisa mengerti.

Tidak berapa lama, dia bilang kalau adek belum bobo. Papa anjurkan dia untuk bicara pada adeknya dan minta supaya adeknya tidur. Lalu dia bilang, ”adek, kenapa belum tidur” katanya. Dan dijawab sendiri oleh Yeremia dengan suara berbeda, seolah adeknya yang menjawab ”Iya, adek pengen ke kantor Papa” Sampai disini Papa sudah mau ketawa mendengar Yeremia bermain sandiwara setengah babak. Tapi ternyata Yeremia masih melanjutkan, ”Ah.Jangan adek, Yeremia pusing kalau adek ke kantor Papa” Hahahahaha…ada-ada saja Yeremia ini.

Sekedar informasi, Yeremia selalu menggunakan kalimat sakti ”Yeremia pusing” kalau diminta melakukan sesuatu yang dia tidak sukai.

Liturgi ala Betawi

Kegiatan rutin gereja di akhir tahun, adalah perayaan Natal. Begitu juga dengan sekolah Yeremia. Sebagaimana tahun lalu, Yeremia juga akan merayakan Natal di sekolah. Kalau tahun lalu, Yeremia mendapat ‘tugas’ bernyanyi beramai-ramai bersama beberapa anak teman sekelasnya, tahun ini Yeremia mendapat tugas untuk liturgi. Menghapal ayat Alkitab untuk kemudian diucapkan di depan. Biasanya di bawah altar.

Untuk liturgi Natal tahun ini, Yeremia mendapat ayat dari kitab Kejadian pasal 1 ayat 5. Ayat dari Kitab Kejadian, biasanya menjadi ayat standar bagi anak-anak sebaya Yermia yang berliturgi. Maklum, biasanya rangkaian liturgi Natal selalu diisi dengan dua atau tiga era. Penciptaan dan Nubuat, Kelahiran Yesus, hingga Wahyu atau keadaan dimasa yang akan datang. Untuk perayaan Natal anak-anak, biasanya rangkaian era ini dimulai liturgi yang dibawakan oleh anak-anak usia TK, Sekolah Dasar hingga kelas tiga, Sekolah Dasar kelas empat hingga kelas enam.

Ayat liturgi Yeremia berbunyi ”Allah menamai terang itu siang dan gelap itu malam”. Sejak awal, seperti biasa Yeremia masih malu-malu bila diminta mengucapkan liturginya. Biasanya memang begitu. Bukan urusan liturgi saja. Apa saja yang ditanyakan bila berhubungan dengan sekolahnya, dia tidak akan langsung bercerita kepada Papa atau Mama. Barulah setelah beberapa saat atau hari, proses penceritaan berlangsung lancar. Demikian juga dengan soal liturgi ini.

Dua tiga hari terakhir, baru Yeremia lancar mengucapkan liturginya didengarkan oleh Papa dan Mama. Yang lucu adalah saat pengucapannya. Ternyata ada kata yang ditambahi, dan ada kata yang diucapkan sesuai dialek yang dia suka. Untuk liturginya, Yeremia akan mengucapkan ”Allah menamai terang itu siang dan gelap itu itu malem”. Dengan penambahan satu kata ‘itu’, dan pengucapan kata malam yang menggunakan logat Betawi. Tanah dimana dia dilahirkan :-)

Yeremia Minum Satu

sumber :picture2blog

Ada satu masa dimana Yeremia senang sekali minum teh dalam botol yang mereknya sudah menjadi generik untuk produk sejenis. Untuk Yeremia sendiri, merek generik itu, juga sudah menjadi merek generik di rumah. Setiap kali ingin minum teh manis, maka dia akan bilang mau minum merek itu.

Sebulan belakangan ini, kebiasaan itu bertambah. Yeremia sedang keranjingan minum susu fermentasi dalam kemasan yang terkenal dengan tagline “Saya Minum Dua!”. Awalnya adalah, Uda Roy yang membeli beberapa buah untuk disimpan di lemari pendingin. Seminggu terakhir ini sepertinya Yeremia keranjingan sekali dengan minuman tersebut. Mungkin karena bahan dasar susu nya.

Begitu keranjingannya sehingga tagline yang ada di iklan itu dirubah oleh kelakuannya. Sehari mungkin dia bisa bilang, “Yeremia Minum Satu!” yeah…..kamu benar nak. Karena kamu baru minum satu kemasan berisi lima botol.

Yeremia Demam

Senin pagi, Yeremia terpaksa ikut bunda. Bunda yang kantor barunya di daerah Sunter, harus singgah di Slipi untuk ketemu Opa dan Oma yang jemput disana. Untuk kemudian tinggal di Kebonjeruk. Karena mbak yang biasa nemanin Yeremia di rumah, pergi nginap di rumah saudaranya [ternyata berakhir dengan pengunduran diri sebagaimana diceritakan Bapak].

siangnya, Yeremia dijemput oleh Bunda untuk kemudian, bersama-sama ke Pondok Indah Mall, melihat kerjaan Bunda disana. Sebagaimana kebiasaan Yeremia akhir-akhir ini, bicara ke mall taman bermain elektronik seperti Timezone tidak bisa dilewatkan. Sayangnya, hari Senin, Timezone PIM I sedang dipergunakan untuk arena pertandingan ketangkasan. Sehingga tidak dapat dipergunakan oleh selain peserta pertandingan. Jadilah Yeremia hanya melihat peserta bermain, dan melupakan niat awalnya untuk menjajal permainan ketangkasan balap mobil yang merupakan favoritnya.

Sore sebelum gelap, Yeremia dan Bunda sudah di rumah kembali. Malam, sesampainya Bapak di rumah, Bunda bilang kalau Yeremia agak hangat badannya. Langsung Bapak dan Bunda bawa Yeremia ke tempat Ompung Dokter. Setelah diperiksa, kata Ompung, tenggorokan Yeremia meradang. Ompung menulis resep antibiotik, sebagai tambahan Panadol sebagai penurun demam yang sudah diminum sebelumnya. Setelah Ompung Mami, memberi antibiotik, Yeremia pulang.

Setibanya di rumah, ternyata demamnya belum turun juga. Yeremia juga minta diantar ke rumah Oma. Bunda janji bawa Yeremia ke rumah Oma. Tapi harus beres-beres dulu. Hampir pukul sebelas malam, Bunda dan Yeremia jalan ke Kebonjeruk lagi. Bapak dan Uda Roy, jaga rumah.

Sampai jam satu pagi hari, demamnya belum turun juga. Yeremia sedikit gelisah karenanya. Sempat tersirat rencana untuk membawa Yeremia ke rumah sakit. Mungkin ke UKI atau Harapan Kita. Karena kata Bunda, sepertinya Yeremia menggigil. Mungkin karena pendingin ruangan yang di kamar Yeremia di Kebonjeruk lumayan dingin, meski sudah tidak bisa dibilang baru.

Namun ternyata, sekitar jam dua, Yeremia pipisnya banyak dan sudah mulai keringatan. Demamnya pun sudah menurun. Bapak sama Bunda sepakat untuk menunggu perkembangan sampai besok pagi. Sebagaimana pesan Ompung dokter juga, kalau sampai tiga hari demam masih tinggi, diminta untuk kembali ke praktek.

Tapi Bapak yakin, Selasa pagi [itu berarti beberapa jam lagi :-) ] demam Yeremia akan turun. Dan Yeremia pun bisa main kembali bersama Lae Markus. Cepat sembuh ya, amang……