Natal kemarin, Yeremia dihadiahi sebuah telepon. Tujuannya tiada lain, agar dia terbiasa saja dengan piranti canggih itu. Tanpa maksud lain. Karena kenyataannya juga, telepon genggam itu tidak sering dipergunakan olehnya. Apalagi sampai dibawa ke sekolah.
Dengan telepon itu, Yeremia lebih leluasa bertelepon ke Oma,Opa,Tulang,Bou, dan seterusnya tanpa harus menunggu papi atau mami. Seringkali pembicaraan yang dilakukannya dengan orang tuanya yang disebut diatas, dibuatnya pribadi. Dia akan msuk kamar untuk sekedar bicara. Sering juga, pembicaraan yang dilakukannya menghibur lawan bicaranya.
Kadang menasihati Bounya di Sidamanik sana. Karena seperti selalu Bou memanggilnya, Yeremia adalah Bapak dari Bou. Atau saat liburan ke Bandung, sesampainya di Bandung, Yeremia mengirim pesan singkat ke Oma dan Tulang untuk sekedar bilang,”Jangan cari Yeremia di rumah ya.Yeremia lagi jalan jalan dengan papi..”
Begitulah. Kalau diajak jalan sekedar window shopping, tak jarang telepon itu ditinggal saja di rumah. Hanya beberapa kali dia ingat untuk membawanya serta. Malah mungkin tak dipergunakan sama sekali.
Malam ini, Yeremia mengirim pesan singkat kepada papi. Isinya,sekadar mengucap terima kasih. Pesan singkat yang belum terlalu sempurna penataan bahasanya, tapi membuat papi terharu membacanya. Begini katanya:
Papi ingat papi pas main blakberry papi temanin abang belajar pianika lagu tanah tumpa darahku itu papi ngajarin abang dan papi juga kasih nomor buat pianika abang terima kasih papi
Langsung papi membalasnya dengan :
Sama-sama abang.nanti abang juga harus bisa ajarin adeknya kan? Kasih contoh buat adek
